Wednesday, 24 August 2016

MENGENANG KEMBALI ASAL USUL KITA (MANUSIA)

Assalamu’alaikum wwt.
Saudara pembaca yang dikasihi,

Kita lahir dan hidup di atas muka bumi ini sebenarnya telah melalui jalan yang panjang sebelumnya. Namun begitu, ramai yang tidak sedar termasuklah diri saya sendiri akan hal ini.  Kita sering dilekakan dengan kehidupan duniawi yang mempersonakan, lantas lupa akan asal-usul kita. Tulisan pada kali ini mengajak saudara pembaca sedar akan kedudukan kita dan kembali tunduk kepada Allah. Sebenarnya tulisan ini saya salin daripada sebuah buku bertajuk “Sirrul Asrar” karangan As-Syeikh Abdul Qadir al-Jailani yang diterjemah oleh K.H. Zezen Zaenal Abidin Zayadi Bazul Asyhab. Semoga Allah merahmati mereka.

Awal Penciptaan Makhluk

Makhluk yang pertama yang diciptakan Allah adalah Ruh Muhammad saw. la diciptakan daripada cahaya  Jamal Allah Sebagaimana firman Allah didalam Hadis Qudsi: "Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya Zat-Ku"

Nabi s a w bersabda: "Yang pertama diciptakan oleh Allah lalah ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah lalah cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah talah qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah lalah akal".

Hakikat Muhammad disebut NUR kerana bersih dari segala kegelapan yang menghalangi untuk dekat kepada Allah sebagai mana firman Allah " Telah datang kepadamu cahaya dan kitab penerang dari Allah". Hakikat Muhammad disebut juga AKAL, kerana ia yang menemukan segala sesuatu Hakikat Muhammad disebut QALAM, kerana ia yang menjadi sebab perpindahan ilmu (seperti halnya mata pena sebagai pengalih ilmu di alam huruf pengetahuan yang tertulis). Ruh Muhammad adalah ruh yang termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sesuai dengan sabda Rasul s a w: "Aku dari Allah dan orang-orang mukmin dari aku”

Dan dari ruh Muhammad itulah, Allah menciptakan semua ruh di alam ‘Lahut' dalam bentuk yang terbaik yang hakiki Itulah nama seluruh manusia di alam Lahut. Alam Lahut adalah negeri asal bagi seluruh manusia setelah 4,000 tahun. Allah menciptakan Arasy dari cahaya zat Muhammad s a w ikhluk lains.a.w berasal dari zat Muhammad.

Selanjutnya ruh-ruh diturunkan ke alam yang terendah, dimasukkan pada makhluk yang terendah, iaitu jasad, sebagaimana Firman Allah: "Kemudian Ku turunkan manusia ke tempat yang terendah".

Proses turunnya adalah setelah ruh diciptakan di alam Lahut, maka diturunkan ke alam Jabarut dan dibalut dengan cahaya Jabarut. Sebagai pakaian antara dua haram lapis kedua ini disebut ruh 'Sultani’. Selanjutnya diturunkan lagi ke alam Malakut dan dibalut dengan cahaya Malakut yang disebut ruh ‘Ruhani’. Kemudian diturunkan lagi ke alam Mulki dan dibalut dengan cahaya Mulki Lapis keempat ini disebut ruh ‘Jismani’.

Selanjutnya Allah menciptakan badan (jasad) dari Mulki (bumi) sebagaimana firman Allah:
"Dari bumi aku mencipta kamu. Kepada bumi aku mengembalikanmu. Dan dari bumi pulalah aku mengeluarkanmu”.

Setelah terwujud jasad, maka Allah memerintahkan ruh agar memasuk ke dalam jasad dan ruh masuk ke dalam jasad, sebagai-mana firman Allah: "Ku tiupkan ruh dari-Ku ke dalam jasad".

Ketika ruh berada didalam jasad, ruh lupa akan perjanjian awal di alam Lahut, iaitu hari perjanjian: "Alastu birabbikuml" (Bukankah aku ini tuhanmu?) Ruh menjawab "Benar, Engkau adalah Tuhan kami”.

Kerana ruh lupa pada perjanjian awal, maka ruh tidak dapat kembali ke alam Lahut sebagai tempat awal. Dengan kasihnya Allah menolong mereka dengan menurunkan kitab-kitab samawi sebagai peringatan tentang negeri asal bagi mereka, sesuai dengan firman Allah "Berikanlah peringatan pada mereka tentang hari-hari Allah", iaitu hari pertemuan antara Allah dengan seluruh arwah di alam Lahut. Lain halnya dengan para nabi, mereka datang ke bumi, dan kembali ke akhirat badannya di bumi, sedangkan ruh intinya berada di negeri asal kerana adanya peringatan ini. Sangat sedikit orang yang sedar dan kembali serta berkeinginan dan sampai ke alam asal.

Kerana sedikitnya manusia yang mampu kembali ke alam asal, maka Allah melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad Rasulullah. Penutup penunjuk jalan dari kesesatan ke alam terang. Ia ditulis untuk mengingatkan mereka yang lupa membuka hatinya. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai, serta bertemu dengan ‘Jamal Allah' yang azalli, sesuai dengan firman Allah; "Katakanlah: "Ini adalah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah dengan pandanganyang jelas. Aku dan para pengikutku”

Nabi bersabda:"Para sahabatku seperti bintang-bintang, mengikut yang matia pun kamu akan mendapat petunjuk”.

Pada ayat tadi dijelaskan bahawa Nabi mengajak manusia kembali kepada Allah dengan pandangan yang jelas, yang didalam Al-Quran disebut 'basyirah. Basyirah adalah dari ruh asli vang terbuka pada mata hati bagi para aulia. Basyirah tidak akan terbuka hanya dengan ilmu zahir saja, tetapi untuk membukanya harus dengan ilmu Ladunni batin (ilmu yang langsung dari Allah). Sesuai dengan Firman Allah: "Kepada dia Ku berikan ilmu yang langsung dari Aku".

Untuk menghasilkan basyirah, manusia mengambilnya dari ahli basyirah dengan mengambil talqin dari seorang wali mursyid yang telah berkomunikasi dengan alam Lahut.

Bersambung..
Post a Comment